JGS Indonesia Perdana di Surabaya, Buka Jalan Pegolf Junior Jawa Timur Menuju Kompetisi Asia

Published on August 17, 2026

Teegolf.id, Surabaya – Surabaya untuk pertama kalinya menjadi bagian dari rangkaian Junior Golf Series (JGS) Indonesia. Gelaran yang berlangsung pada 14-16 Agustus 2026 di Ciputra Golf Surabaya tersebut menjadi momentum penting bagi perkembangan golf junior di Jawa Timur sekaligus membuka jalur baru bagi pegolf muda daerah untuk mengejar pengalaman dan kesempatan bertanding di level Asia.

Kehadiran JGS di Kota Pahlawan bukan sekadar menambah daftar turnamen golf junior di Surabaya. Ajang ini membawa sistem kompetisi berbasis poin yang memungkinkan para pemain membangun perjalanan prestasi secara bertahap. Setiap pertandingan menjadi bagian dari perhitungan yang dapat membuka peluang menuju turnamen berikutnya, termasuk kompetisi internasional.

Managing Director of The JGS Indonesia, Putri Setyandari, mengatakan Surabaya dipilih karena Jawa Timur dinilai memiliki potensi besar dalam melahirkan pegolf junior. Menurutnya, selain Jakarta dan Jawa Tengah, Jawa Timur memiliki banyak talenta muda yang membutuhkan ruang kompetisi dengan jalur perkembangan yang lebih jelas.

“Kita melihat kebanyakan atlet golf itu banyak potensinya dari Jawa Timur, selain Jakarta dan Jawa Tengah. Jawa Timur menurut kita lebih spesial,” ujar Putri.

Menurut Putri, konsep JGS Indonesia memang berbeda dengan turnamen yang hanya berorientasi pada hasil satu pertandingan. Para pemain tidak hanya datang untuk bertanding, mendapatkan trofi, kemudian menyelesaikan kompetisi. Mereka juga mengumpulkan poin yang dapat menjadi modal untuk mengikuti perjalanan kompetisi selanjutnya.

Sumber : JGS

“Perbedaan kita dengan turnamen-turnamen lokal yang ada adalah kita punya pathway. Jadi tidak cuma datang, turnamen, dapat trofi, pulang, besok turnamen lagi. Kalau di sini, mereka datang, turnamen, dan punya poin,” katanya.

Sistem tersebut menjadi salah satu daya tarik utama bagi pegolf junior. Pemain yang belum berhasil keluar sebagai juara tetap memiliki kesempatan memperoleh poin. Dengan demikian, hasil satu turnamen tidak serta-merta menentukan seluruh perjalanan seorang atlet.

“Walaupun yang tidak menang, mereka tetap dapat poin. Jadi mungkin kali ini saya tidak menang, tetapi dapat poin. Mungkin nanti di turnamen berikutnya saya bisa mengejar posisi tiga besar,” ujar Putri.

Bagi JGS Indonesia, sistem poin tersebut sekaligus mendorong para pemain untuk belajar konsisten. Pegolf junior tidak hanya dibentuk untuk mengejar kemenangan sesaat, tetapi juga dibiasakan menghadapi kompetisi secara rutin dan mengembangkan performanya dari satu seri ke seri berikutnya.

Gelaran di Surabaya sendiri memiliki arti penting karena menjadi seri JGS pertama yang diselenggarakan di Kota Pahlawan. Dalam kalender JGS Indonesia 2026, seri Surabaya masuk dalam Champions League #3 dengan agenda perhitungan poin menuju kompetisi di Korea.

Jaringan JGS Indonesia juga terhubung dengan kompetisi junior di sejumlah negara Asia. Konsep tersebut berawal dari Junior Golf Series di Thailand sebelum kemudian berkembang ke Indonesia dan Korea. Melalui jaringan tersebut, pegolf muda Indonesia memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengalaman bertanding di luar negeri tanpa harus langsung melompat ke kompetisi dengan jarak dan biaya yang terlalu besar.

Sumber : JGS

“Kami ingin memberikan ruang yang besar untuk anak-anak kita lebih banyak main di luar negeri. Kami mengambil Asia karena kami berpikir masih terjangkau untuk orang tua. Anak-anak bisa bertanding di Thailand atau Malaysia dan tidak harus terlalu lama meninggalkan sekolah,” tutur Putri.

Jalur kompetisi tersebut juga menjadi bagian dari upaya JGS Indonesia untuk memperkenalkan pengalaman internasional sejak usia junior. Selain membangun kemampuan teknis, pemain mendapatkan kesempatan untuk beradaptasi dengan lapangan, atmosfer pertandingan, serta lawan dari berbagai daerah dan negara.

Di tingkat nasional, JGS Indonesia juga menyiapkan Indonesia Junior Masters yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026. Sistem penghargaan dan peringkat JGS memberikan kesempatan bagi pemain dengan posisi terbaik untuk mendapatkan akses menuju sejumlah kompetisi internasional.

Putri berharap kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan pegolf junior Jawa Timur. Menurutnya, keberadaan turnamen di Surabaya dapat mengurangi hambatan biaya dan perjalanan bagi pemain dari wilayah Jawa Timur yang selama ini harus mengikuti kompetisi di kota lain.

“Kami ingin Jawa Timur punya tenaga sendiri, punya order of merit sendiri. Jadi mereka tidak harus selalu ke Jakarta karena biayanya besar. Kalau bisa dibuat sendiri di daerah, menurut saya itu lebih fair,” katanya.

Sumber : JGS

Konsep tersebut tidak hanya ditujukan untuk Surabaya. JGS Indonesia juga membuka peluang memperluas jaringan kompetisi ke wilayah lain seperti Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Kerja sama dengan pengelola lapangan golf maupun komunitas di daerah menjadi salah satu cara yang dipertimbangkan untuk menjangkau lebih banyak talenta muda.

“Kami sangat terbuka untuk bekerja sama dengan pengelola-pengelola golf di daerah. Mereka pasti punya pemain, cuma kadang-kadang tidak tahu harus ke mana. Kalau mau bekerja sama, kita bisa duduk bersama dan membicarakan bentuk kerja samanya,” ujar Putri.

Upaya memperluas akses kompetisi tersebut menjadi penting karena perkembangan golf junior di Indonesia tidak hanya bertumpu pada kota-kota besar. Talenta dari luar Jawa juga mulai bermunculan dan mengikuti berbagai kompetisi. Salah satunya Adigana Wicaksono yang disebut Putri berasal dari Kalimantan.

Baca Juga : Berburu Tiket ke AS Lewat Chiang Mai dan Taiwan, Enam Pegolf Junior Indonesia Amankan Slot Internasional

Bagi Surabaya sendiri, kehadiran JGS menambah warna dalam perkembangan ekosistem golf junior. Sebelumnya, berbagai turnamen junior juga telah digelar di kota ini. Persatuan Golf Indonesia (PGI) Surabaya, misalnya, pada Mei 2026 menyelenggarakan Turnamen Junior Golf Wali Kota Surabaya Cup yang diikuti sekitar 50 pegolf muda. Rangkaian tersebut juga menjadi bagian dari upaya pembinaan dan regenerasi atlet golf di Kota Pahlawan.

Dengan hadirnya JGS, pegolf junior Surabaya dan Jawa Timur mendapatkan tambahan pilihan kompetisi dengan sistem yang terhubung ke jaringan internasional. Hal tersebut diharapkan dapat membuat pemain tidak hanya aktif mengikuti turnamen, tetapi juga memiliki target jangka panjang dalam perjalanan kariernya.

Putri menegaskan bahwa inti dari sistem tersebut adalah memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk terus berkembang melalui pengalaman bertanding.

“Kita ingin memberikan anak-anak itu untuk belajar konsisten di turnamen. Jadi tidak hanya berpikir, ‘saya menang atau tidak’, tetapi mereka punya perjalanan dan poin yang bisa dikejar,” katanya.

Penyelenggaraan perdana JGS di Surabaya akhirnya tidak hanya menjadi sebuah agenda kompetisi baru. Lebih jauh, ajang ini menjadi upaya membuka pintu bagi pegolf junior Jawa Timur untuk memiliki jalur prestasi yang lebih terarah, mulai dari kompetisi lokal, nasional, hingga kesempatan tampil di panggung Asia.

Dari Surabaya, perjalanan tersebut diharapkan terus berlanjut. Bukan hanya menghasilkan juara dalam satu turnamen, tetapi melahirkan pegolf muda yang terbiasa bertanding, konsisten mengembangkan kemampuan, dan berani membawa nama Jawa Timur ke level yang lebih tinggi.(kar)