Akankah Pelemahan Rupiah Memicu Kenaikan Green Fee? Ini Kata Pelaku Industri Golf Surabaya
Teegolf.id, SURABAYA — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir belum memberikan dampak signifikan terhadap industri golf di Surabaya. Sejumlah pengelola lapangan golf dan penyelenggara turnamen mengaku aktivitas bermain golf maupun agenda turnamen masih berjalan normal dengan tingkat partisipasi yang tetap stabil.
General Manager Ciputra Golf Surabaya, Yafiz Syahril, mengatakan pelemahan rupiah memang memiliki pengaruh terhadap operasional bisnis golf. Namun hingga saat ini dampaknya belum terlalu besar sehingga belum memengaruhi kebijakan harga green fee maupun aktivitas para pegolf.
“Pengaruh tentunya ada, tetapi sampai saat ini tidak terlalu signifikan karena jumlah round kami masih terbukti stabil,” ujar Yafiz.
Menurutnya, Ciputra Golf Surabaya memilih melakukan efisiensi di sejumlah sektor operasional yang tidak berdampak langsung kepada pelanggan daripada menaikkan tarif bermain golf.
“Kami juga tidak menaikkan harga green fee. Kami memilih langkah untuk bisa berhemat dari sisi lainnya yang tidak berdampak langsung kepada para golfer kami,” katanya.
Yafiz menambahkan, kondisi tersebut juga tercermin dari tetap berlangsungnya berbagai turnamen golf yang telah dijadwalkan sebelumnya. Hingga kini seluruh agenda kompetisi masih berjalan sesuai rencana tanpa adanya pembatalan.“Sejauh ini jumlah turnamen yang ada masih on schedule,” tambahnya.
Pandangan serupa disampaikan Marketing Manager Golf Graha Famili, Elisa Nagari. Ia menjelaskan berbagai dinamika ekonomi yang terjadi saat ini belum memengaruhi kenyamanan maupun antusiasme para pegolf untuk bermain di lapangan.“Sejauh ini, meskipun terdapat berbagai dinamika ekonomi, di Golf Graha Famili para golfer tetap dapat menikmati pengalaman bermain golf dengan nyaman di tengah berbagai situasi yang ada,” ujar Elisa.
Ia mengatakan seluruh aktivitas operasional, termasuk penyelenggaraan turnamen, masih berlangsung lancar. Sejumlah agenda seperti Golf Armour Tournament, Metro Golf League, dan Ai-Xiang Golf Tournament tetap berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Menurut Elisa, golf tidak hanya menjadi sarana olahraga, tetapi juga wadah untuk bersosialisasi, membangun jaringan, serta melepas penat dari aktivitas sehari-hari. Faktor tersebut membuat minat bermain golf masih terjaga meskipun kondisi ekonomi menghadapi tantangan.
“Golfer tentunya membutuhkan hiburan seperti bermain golf yang selain sebagai sarana refreshing diri dan olahraga, juga menjadi tempat untuk mempererat relasi dan bersosialisasi dengan para kolega,” katanya.
Untuk menjaga antusiasme komunitas golf, Golf Graha Famili juga tengah mempersiapkan rangkaian program “Road to Anniversary” menjelang perayaan hari jadi ke-31 yang akan digelar pada akhir Agustus mendatang.
“Kami berharap program tersebut dapat menggambarkan antusiasme terhadap perjalanan anniversary kami bersama para golfer yang juga menjadi bagian dari Golf Graha Famili,” ujar Elisa.
EO Golf: Turnamen Masih Aman, Ancaman Baru Muncul Jika Green Fee Naik
Di sisi penyelenggara turnamen, kondisi pasar golf juga dinilai masih cukup kondusif. Owner Albatros Golf, Rina Sunariyanti, mengatakan hingga saat ini belum ada perubahan terhadap agenda turnamen yang telah direncanakan.
“Sejauh ini tidak ada perubahan terkait turnamen yang akan berlangsung. Semuanya masih sesuai jadwal,” ujarnya.
Menurut Rina, faktor yang paling berpotensi memengaruhi penyelenggaraan turnamen adalah kenaikan tarif green fee. Jika biaya bermain golf meningkat, maka biaya penyelenggaraan turnamen juga akan ikut terdorong naik.
“Kalau sejauh ini yang paling berpengaruh adalah green fee naik maka semua akan naik. Tapi jika tidak, maka tidak akan berpengaruh pada turnamen yang diadakan,” katanya.
Sementara itu, Owner Groovy Golf sekaligus penyelenggara Metro Golf League, Teddy Salim, menilai pasar golf saat ini masih relatif stabil karena ditopang komunitas dan loyalitas para pegolf yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
“Kalau untuk pemain yang memang sudah rutin bermain golf, saya rasa belum terlalu terpengaruh. Loyalis golf sudah terbentuk dan pasarnya sudah ada. Yang mungkin terdampak adalah pemain-pemain yang sifatnya sesekali bermain,” ujar Teddy.
Ia mengaku hingga pertengahan tahun ini belum melihat adanya kenaikan signifikan biaya bermain golf yang berdampak langsung terhadap jumlah pemain. Namun demikian, ia memperkirakan dampak pelemahan rupiah berpotensi lebih terasa pada sektor penyelenggaraan event dan turnamen.
Menurut Teddy, tantangan terbesar ke depan bukan berasal dari jumlah pegolf, melainkan kemungkinan berkurangnya perusahaan atau institusi yang mengalokasikan anggaran untuk menggelar turnamen golf.
“Saya melihat dampak terbesarnya kemungkinan pada jumlah turnamen yang diselenggarakan. Kalau kondisi ekonomi terus tertekan, perusahaan akan lebih selektif dalam mengalokasikan anggaran untuk kegiatan seperti turnamen golf,” katanya.
Meski demikian, Teddy optimistis sejumlah turnamen besar yang telah masuk dalam kalender tahunan akan tetap terlaksana karena proses perencanaan dan kontraknya telah disusun jauh hari sebelumnya. Kondisi tersebut membuat industri golf di Surabaya hingga saat ini masih mampu menjaga stabilitas di tengah tekanan ekonomi dan fluktuasi nilai tukar rupiah. (kar)