Enam Pegolf Indonesia Bidik Finish Terbaik di Asia-Pacific Amateur Championship
AAC Preview Rayhan Latief. Credit AAC.JPG
Teegolf.id, AUCKLAND – Enam pegolf amatir Indonesia bertekad mengukir prestasi terbaik bagi Merah Putih pada ajang Asia-Pacific Amateur Championship (AAC) 2026 yang berlangsung di Te Arai Links, Selandia Baru, mulai Kamis (29/10/2026). Dua di antaranya, Randy Bintang dan Rayhan Latief, bahkan menyimpan ambisi besar untuk meraih gelar juara yang akan menjadi sejarah bagi golf Indonesia.
Kejuaraan edisi ke-17 ini menjadi salah satu panggung paling bergengsi bagi pegolf amatir di kawasan Asia-Pasifik. Sang juara tidak hanya membawa pulang trofi, tetapi juga memperoleh kesempatan tampil di dua turnamen major dunia, yakni The Masters dan The Open pada 2027.
Indonesia memiliki catatan prestasi yang menjadi acuan bagi para wakilnya. George Gandranata pernah menempati posisi T17 atau berbagi peringkat ke-17 pada edisi 2011 di Singapura. Prestasi tersebut kemudian disamai Rayhan Latief ketika tampil di Dubai tahun lalu.
Randy Bintang, yang akan menjalani penampilan kelimanya di kejuaraan ini, bertekad memperbaiki pencapaiannya. Prestasi terbaiknya sejauh ini adalah finis di posisi T19 pada 2024. Ia juga pernah memimpin klasemen setelah putaran pertama di Jepang dua tahun lalu dan sempat bersaing dalam perebutan gelar hingga akhir pekan.
“Ini sangat spesial karena turnamen ini memberikan peluang untuk mengikuti The Masters dan The Open. Bagi negara seperti Indonesia, akan menjadi langkah bersejarah jika salah satu pemain bisa tampil di The Masters dan The Open,” ujar Randy.
Pengalaman bersaing di papan atas membuat Randy memahami pentingnya menjaga fokus sepanjang turnamen. Ia memilih untuk tidak terbebani oleh target akhir dan lebih berkonsentrasi pada setiap pukulan yang harus dimainkan.
“Pengalaman itu mengajarkan saya agar memainkan permainan sendiri, tidak melihat permainan pemain lainnya. Fokus pada langkah demi langkah, bukan pada hasilnya,” tuturnya.
Randy juga menyambut antusias tantangan bermain di Te Arai Links. Lapangan tersebut menawarkan panorama Samudra Pasifik yang menjadi daya tarik tersendiri, dengan 16 hole menyuguhkan pemandangan laut.
“Sangat indah. Pemandangannya di setiap pukulan tee, setiap pukulan kedua, kami mendapatkan pemandangan ke lautan dan juga ada banyak semak-semak di mana-mana. Sungguh istimewa,” katanya.
Dari sisi permainan, Randy mengaku berada dalam kondisi yang cukup baik menjelang kompetisi. “Pukulan saya sedang bagus, dan putting saya juga bagus. Jadi, saya sangat menantikan ajang ini,” ujarnya.
Optimisme serupa disampaikan Rayhan Latief. Pegolf berusia 19 tahun yang kini menempuh pendidikan di University of North Texas, Amerika Serikat, itu juga akan menjalani penampilan kelimanya di AAC. Setelah menyamai rekor terbaik Indonesia pada edisi tahun lalu, Rayhan kini membidik hasil yang lebih tinggi.
“Pekan ini sangat berarti buat saya. Saya berusaha untuk berada di posisi yang bagus, di mana saya bisa dipertimbangkan sebagai salah satu pesaing yang tangguh untuk pekan ini sehingga bisa memenangkan trofi,” kata Rayhan.
Ia menilai kualitas pukulan dan permainan iron menjadi modal penting untuk menghadapi persaingan. Dukungan kedua pelatihnya, Luke Calcatera dan Joseph Kirk, juga berperan dalam mempersiapkan dirinya, baik dari sisi teknis maupun pengembangan karakter.
“Kualitas pukulan, permainan iron saya sedang bagus. Kedua pelatih saya, Luke Calcatera dan Joseph Kirk, mendorong kami untuk berlatih keras sekaligus menjadi pribadi yang lebih baik juga. Kami berlatih untuk mengembangkan diri,” ujarnya.
Meski telah menjalani dua putaran latihan, Rayhan menyadari tantangan di Te Arai Links tidak akan mudah. Menurut dia, karakter lapangan menuntut konsistensi pukulan serta kemampuan short game yang mumpuni untuk menjaga peluang meraih skor terbaik.
“Lapangannya sangat sulit. Jelas dibutuhkan kualitas pukulan yang bagus, juga perlu short game yang tajam,” kata Rayhan.
Baca Juga : Rayhan Latief Bidik Sejarah di Asia-Pacific Amateur Championship 2026
Ia pun memilih menjaga konsentrasi pada proses permainan daripada terlalu memikirkan hasil akhir. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dari persiapannya menghadapi sejumlah pegolf unggulan, termasuk juara bertahan Fifa Laopakdee dari Thailand, Taisei Nagasaki dari Jepang, pegolf tuan rumah Joshua Bai dari Selandia Baru, Jaden Dumdumaya dari Filipina, dan Zhou Ziqin dari China.
“Selalu ada motivasi untuk bermain dalam turnamen ini. Tapi saya selalu mengingatkan diri sendiri agar fokus pada prosesnya, menikmati prosesnya, dan berusaha untuk benar-benar memperhatikan segala detail yang ada,” tuturnya.
Selain Randy dan Rayhan, Indonesia juga mengandalkan Asa Najib Bhakti, Jayawardana Dornan, Kenneth Sutianto, dan William Wijaya. Keenam wakil tersebut diharapkan mampu tampil maksimal di tengah persaingan ketat pegolf terbaik Asia-Pasifik.
Dengan pengalaman, persiapan, dan motivasi yang dimiliki, kontingen Indonesia berpeluang memperbaiki catatan prestasi sebelumnya. Bagi Randy, Rayhan, dan empat rekannya, AAC 2026 bukan sekadar ajang menguji kemampuan, melainkan juga kesempatan membawa nama Indonesia semakin diperhitungkan di panggung golf internasional.(kar)