Rayhan Latief Bidik Sejarah di Asia-Pacific Amateur Championship 2026
Rayhan Latief of Indonesia plays his stroke from the No. 1 tee during the final round of the 2025 Asia-Pacific Amateur Championship being played at the Emirates Golf Club Majlis Course in Dubai, United Arab Emirates on Sunday 26 October 2025. Photograph by AAC.
Teegolf.id, Jakarta – Pegolf amatir Indonesia, Rayhan Latief, bersiap menghadapi tantangan besar di Asia-Pacific Amateur Championship (AAC) 2026 dengan kepercayaan diri yang semakin meningkat. Berbekal perkembangan permainan selama menempuh pendidikan di Amerika Serikat, pegolf berusia 19 tahun itu membidik gelar juara pada kejuaraan bergengsi yang akan berlangsung di Te Arai Links, Selandia Baru, pada 29 Oktober hingga 1 November 2026.
Kepercayaan diri Rayhan bukan tanpa alasan. Mahasiswa tingkat dua University of North Texas (UNT) tersebut baru saja mencatatkan hasil impresif dengan finis di posisi keempat pada Blessings Collegiate Invitational di Arkansas. Sebelumnya, ia juga menempati peringkat ke-12 pada Argent Financial Classic di Louisiana. Rentetan hasil tersebut menjadi modal berharga menjelang penampilan kelimanya secara berturut-turut di AAC.
Pada edisi tahun lalu di Dubai, Rayhan mencatatkan hasil terbaiknya dengan finis di posisi T17, menyamai pencapaian terbaik pegolf Indonesia yang sebelumnya ditorehkan George Gandranata di Singapura pada 2011. Kini, Rayhan ingin melangkah lebih jauh dan mencetak sejarah sebagai pegolf Indonesia pertama yang berhasil menjuarai turnamen tersebut.
Perkembangan permainan selama berkompetisi di Amerika Serikat menjadi salah satu bekal utamanya. Bersama tim golf UNT, Rayhan mendapatkan program pembinaan yang mencakup berbagai aspek, mulai dari teknik bermain, kondisi fisik, hingga kesiapan mental.
“Saya mengalami perkembangan yang luar biasa tahun ini bersama Tim Golf UNT. Mereka punya program yang sangat bagus, dan setiap hari mereka mencatat hampir segalanya dari permainan, persiapan fisik, dan permainan mental saya,” ujar Rayhan.
Ia mengaku semakin bersemangat menghadapi kejuaraan tahun ini berkat dukungan tim yang mendampinginya selama menjalani proses latihan dan pengembangan kemampuan.
“Saya sangat bersemangat dan percaya diri dengan persiapan yang saya miliki menuju AAC tahun ini,” katanya.
Di Te Arai Links, Rayhan akan menghadapi persaingan ketat dari para pegolf amatir terbaik kawasan Asia-Pasifik. Sejumlah nama yang patut diperhitungkan antara lain juara bertahan Fifa Laopakdee dari Thailand, runner-up edisi sebelumnya Taisei Nagasaki dari Jepang, Nguyen Anh Minh dari Vietnam, serta Jaden Dumdumaya dari Filipina.
Rayhan juga mengaku terinspirasi oleh perjalanan Fifa Laopakdee yang berhasil menjuarai AAC di Dubai sebelum mendapatkan kesempatan tampil di dua kejuaraan major, yakni The Masters dan The Open Championship, pada 2026. Keduanya telah saling mengenal sejak bermain bersama dalam Junior Presidents Cup 2022.
Menurut Rayhan, pencapaian Fifa menjadi gambaran nyata tentang peluang besar yang dapat terbuka melalui kejuaraan tersebut. Ia pun berharap bisa mengikuti jejak sang juara bertahan dan membawa pulang gelar untuk Indonesia.
“Saya bangga terhadap dirinya dan semua pencapaiannya. Saya menyaksikan beberapa tayangan langsung permainannya. Pengalaman itu sungguh luar biasa baginya. Kami sudah bermain bersama sejak Junior Presidents Cup 2022, jadi saya merasa sangat senang melihatnya memainkan dua turnamen besar itu dan mendapatkan pengalaman tersebut,” tuturnya.
Selain menghadapi para pesaing tangguh, Rayhan juga menaruh perhatian pada karakter lapangan Te Arai Links yang diperkirakan menjadi ujian tersendiri bagi seluruh peserta. Pengalamannya berlatih dalam kondisi berangin di Texas membuatnya optimistis dapat beradaptasi dengan tantangan permainan di Selandia Baru.
“Saya kira lapangan ini akan menjadi ujian yang sangat bagus. Dengan kondisi dan kesulitan di lapangan, siapa pun yang juara akan menjadi pemenang yang layak,” ujarnya.
Baca Juga : Rayhan Latief, Harapan Baru Golf Indonesia di Asia-Pacific Amateur Championship 2025
Ambisi Rayhan semakin besar karena AAC menawarkan kesempatan yang tidak dimiliki banyak turnamen amatir lainnya. Sang juara berhak mendapatkan undangan untuk tampil di The Masters serta kesempatan mengikuti The Open Championship. Kedua turnamen tersebut menjadi target besar dalam perjalanan karier golfnya.
“Target pribadi saya untuk Selandia Baru, tentunya, memenangkan turnamen ini. Pasti tidak akan mudah mengingat kondisi dan lapangannya, tetapi saya sudah banyak berlatih dengan kondisi angin di Texas. Makanya, saya merasa percaya diri menuju Te Arai Links dan yakin saya bisa bermain dengan baik,” kata Rayhan.
Ia menegaskan telah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi persaingan. Kesempatan tampil di dua kejuaraan major dunia menjadi motivasi tambahan untuk memberikan permainan terbaiknya.
“Bisa bermain dalam dua ajang major, terutama The Masters dan The Open, sudah menjadi salah satu target saya. Pasti akan luar biasa bila bisa mewujudkannya tahun ini. Saya sudah berlatih keras sebagai persiapan dan rasanya sudah melakukan semua yang saya bisa untuk menempatkan diri agar bisa bersaing memperebutkan kemenangan. Semoga saja saya bisa mewujudkannya di Selandia Baru,” ujarnya.
Rayhan akan bertolak ke Selandia Baru bersama lima wakil Indonesia lainnya, yakni Randy Bintang, Kenneth Sutianto, William Wijaya, Jayawardana Dornan, dan Asa Najib Bhakti. Kehadiran enam pegolf Indonesia tersebut menjadi bagian dari upaya mengukir prestasi di panggung amatir internasional.
Bagi Rayhan, AAC bukan sekadar ajang untuk mengejar gelar juara. Turnamen tahunan tersebut juga menjadi kesempatan untuk bertemu pegolf dari berbagai negara, mengenal budaya yang berbeda, serta mengukur kemampuan di tengah persaingan tingkat tinggi.
“Turnamen ini sangat penting buat saya. Ini turnamen tahunan yang menjadi prioritas saya setiap tahun mengingat betapa istimewanya kesempatan ini. Kalau menang, Anda berpeluang mengikuti dua kejuaraan major, jadi alasan itu menegaskan mengapa kejuaraan ini sangat berarti,” katanya.
Asia-Pacific Amateur Championship pertama kali digelar pada 2009 atas prakarsa Asia-Pacific Golf Confederation (APGC), The R&A, dan Masters Tournament untuk mengembangkan golf amatir di kawasan Asia-Pasifik. Kejuaraan ini telah menjadi batu loncatan bagi sejumlah pegolf menuju panggung dunia, termasuk Hideki Matsuyama dari Jepang, Cameron Smith dari Australia, dan Ryan Fox dari Selandia Baru.
Kini, Rayhan berpeluang melanjutkan tradisi tersebut. Dengan bekal pengalaman, persiapan matang, dan target yang jelas, ia akan berusaha mengubah kepercayaan diri menjadi prestasi sekaligus membuka jalan bagi pegolf Indonesia untuk bersaing lebih jauh di level internasional. (kar)