Dari Mobile Legends ke Lapangan Golf, Michelle Sinatra Menemukan Cara Baru untuk Bertumbuh

Published on October 16, 2026

Teegolf.id, Surabaya – Dulu, dunia Michelle Sinatra lekat dengan Mobile Legends. Kini, perempuan yang menekuni bisnis kecantikan itu lebih banyak menghabiskan waktu di hamparan rumput hijau, menikmati ayunan tongkat golf dan suasana pagi yang menenangkan. Dua aktivitas yang terlihat berbeda tersebut mempertemukannya dengan pengalaman serupa membangun kemampuan, memperluas pertemanan, dan terus berkembang bersama komunitas.

Michelle bukan sosok yang sejak awal bercita-cita menjadi pegolf. Perjalanannya justru bermula dari ajakan seorang teman untuk mencoba golf di driving range. Awalnya, ia hanya berlatih memukul bola. Namun, setelah rutin mencoba, ia merasa olahraga tersebut semakin menarik.

Sekitar Januari tahun sebelumnya, Michelle mulai turun langsung ke lapangan. Atas saran seorang teman yang mengingatkannya bahwa golf tidak cukup dipelajari di driving range, ia kemudian mengambil keanggotaan di Graha Famili agar dapat berlatih secara rutin.

Dari pengalaman itulah Michelle menemukan sesuatu yang membuatnya bertahan. Golf bukan hanya tentang memukul bola sejauh mungkin, tetapi juga tentang mengatur tempo, menjaga konsistensi, dan menikmati proses.

“Setelah ditekuni, ternyata refreshing. Mendengar suara burung, melihat lanskap lapangan, semuanya membuat hidup terasa lebih santai,” ujar Michelle.

Menariknya, sebelum mengenal golf lebih jauh, Michelle pernah menjadi influencer di komunitas Mobile Legends. Pengalaman di dunia game tersebut menjadi bagian dari perjalanan sosialnya, sebelum kemudian menemukan minat yang lebih kuat pada olahraga golf.

Meski berbeda, kedua dunia itu sama-sama mempertemukannya dengan komunitas dan proses belajar. Di Mobile Legends, pemain dituntut memahami strategi dan meningkatkan keterampilan. Sementara di golf, kemampuan berkembang melalui latihan, evaluasi pukulan, dan konsistensi.

Bagi Michelle, golf bahkan memberikan pelajaran yang berpengaruh pada cara ia menjalani kehidupan sehari-hari. Ia menyadari bahwa ayunan yang terlalu terburu-buru bisa membuat pukulan meleset. Sebaliknya, gerakan yang tidak terkontrol juga sulit menghasilkan pukulan yang baik.

Prinsip itu membuatnya belajar mengurangi kebiasaan terburu-buru. Jika sebelumnya ingin segala sesuatu berjalan cepat, kini ia berusaha lebih tenang, mengamati keadaan, lalu mengambil langkah dengan pertimbangan yang matang.

“Dulu saya orangnya lebih terburu-buru, ingin cepat-cepat. Sekarang lebih santai, melihat dulu, baru dijalani,” tuturnya.

Pelajaran tersebut terasa relevan bagi Michelle yang menjalankan bisnis di bidang kecantikan. Di tengah kesibukan pekerjaan dan berbagai tuntutan, golf menjadi sarana untuk menyegarkan pikiran. Ia terbiasa bermain pada pagi hari, sekitar pukul 05.00, dan menyelesaikan permainan sekitar pukul 07.00 hingga 07.30 sebelum kembali bekerja.

Kebiasaan itu membuatnya lebih disiplin bangun pagi sekaligus memberikan waktu untuk bergerak di ruang terbuka. Michelle menikmati permainan yang memungkinkannya berjalan santai sambil berbincang dengan teman-teman. Ia merasa golf menjadi olahraga yang paling sesuai dengan preferensinya dibandingkan aktivitas berintensitas tinggi seperti badminton atau padel.

Meski terlihat santai, golf tetap memiliki tantangan. Michelle mengaku belum konsisten menjaga arah pukulan, terutama ketika menggunakan wood dan hybrid. Perbedaan karakteristik tongkat membuatnya harus terus menyesuaikan teknik agar bola melaju sesuai sasaran.

Namun, tantangan itu tidak membuatnya terburu-buru mengejar prestasi. Kesibukan pekerjaan menjadi salah satu pertimbangannya, sementara tujuan utamanya tetap menikmati hobi dan menjaga kesehatan.

Baginya, pengalaman di lapangan juga semakin berharga karena lingkungan pertemanannya. Michelle menemukan komunitas yang terbuka untuk berbagi pengalaman, mulai dari teknik bermain hingga pengetahuan seputar pekerjaan dan bisnis.

“Di golf, orang-orangnya ramah dan mau berbagi tips. Mereka punya pola pikir bahwa kita harus bisa maju dan sukses bersama,” ungkapnya.

Pengalaman itulah yang kemudian membawanya menjadi brand ambassador Brawijaya Golf. Michelle menerima tawaran tersebut karena sudah sering bermain di sana dan melihat kesempatan untuk memperkenalkan golf kepada lebih banyak anak muda.

Tinggal di wilayah timur Surabaya, ia juga merasa lokasi Brawijaya Golf yang berada di kawasan tengah lebih praktis dijangkau. Selain memudahkan latihan, peran tersebut memberinya ruang untuk mengajak orang lain mengenal golf sebagai aktivitas yang menyenangkan dan bermanfaat.

Baca Juga : Mengenal Karakter Orang dari Golf

Perjalanan dari komunitas Mobile Legends menuju dunia golf memperlihatkan bagaimana minat seseorang dapat berkembang seiring waktu. Michelle tidak meninggalkan pengalaman masa lalunya, tetapi melanjutkan perjalanan dengan menemukan aktivitas yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidupnya saat ini.

Ia pun mengajak perempuan yang masih ragu mencoba golf untuk tidak langsung terhalang anggapan bahwa olahraga ini terlalu panas, membutuhkan waktu panjang, atau hanya cocok bagi kalangan tertentu.

“Just do it. Golf itu seru. Kita bisa bertemu teman-teman yang menyenangkan dan punya semangat untuk saling membangun,” katanya.

Bagi Michelle Sinatra, golf bukan semata-mata tentang skor, jarak pukulan, atau trofi. Olahraga ini memberinya kesempatan untuk menjaga kesehatan, membangun relasi, dan belajar mengelola diri. Pengalaman sebelumnya di komunitas gim dan perjalanannya di lapangan golf menjadi bagian dari kisah tentang keberanian mencoba hal baru.

Pada akhirnya, baik di dunia gim maupun golf, Michelle menemukan satu hal yang sama kemampuan tidak tumbuh dalam semalam. Dibutuhkan proses, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar. Kini, melalui golf, ia memilih menikmati proses tersebut dengan ritme yang lebih tenang, sembari membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk ikut bertumbuh bersama.(kar)