Rapat Kerja PGI Jatim Bahas Batas Usia Porprov dan Strategi Menuju PON 2028

Published on October 3, 2026

Teegolf.id, Surabaya – Persatuan Golf Indonesia (PGI) Jawa Timur memanfaatkan Rapat Kerja yang digelar di Bukit Darmo Golf, Surabaya, Sabtu (3/10), untuk membahas sejumlah agenda penting terkait pembinaan atlet, regulasi batas usia, serta persiapan menghadapi ajang olahraga tingkat nasional dan daerah.

Ketua PGI Jawa Timur, M. Rizal mengatakan Jawa Timur memiliki potensi atlet golf yang cukup besar dan tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Namun, salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam rapat kerja adalah aturan batas usia atlet pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur yang saat ini masih berada pada batas maksimal 25 tahun.

Rizal menilai aturan tersebut perlu dikaji kembali agar pembinaan atlet di Jawa Timur dapat berjalan lebih optimal dan selaras dengan regulasi pada level nasional.

“Potensi atlet Jawa Timur yang tersebar di kabupaten dan kota ini cukup besar. Cuma batasan usianya lebih dari 25 tahun. Alhamdulillah sudah diberi kelonggaran, tetapi masih sampai 25 tahun. Harapan kami, kenapa harus 25? Kami berharap bisa lebih,” kata Rizal.

Menurutnya, aturan pertandingan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) memiliki ketentuan berbeda. Selama atlet tersebut bukan berstatus profesional, tidak terdapat batasan usia seperti yang diterapkan dalam Porprov. Kondisi tersebut membuat PGI Jatim berharap regulasi Porprov dapat disesuaikan dengan kebutuhan pembinaan atlet golf.

Rizal berkaca pada pengalaman PON sebelumnya, ketika sejumlah provinsi diperkuat atlet berusia 35 hingga 40 tahun. Menurut dia, pengalaman bertanding menjadi salah satu faktor yang membuat atlet senior tetap memiliki kemampuan kompetitif.

“Di PON banyak atlet provinsi lain yang umurnya sudah 35, 40. Mereka lebih matang. Tapi Porprov ini wilayahnya Jawa Timur dan mereka punya mekanisme sendiri yang ada batasan umur,” ujarnya.

Ketua PGI Jawa Timur, M. Rizal

Karena itu, PGI Jatim akan berupaya menyampaikan aspirasi tersebut melalui mekanisme organisasi agar aturan yang diterapkan pada Porprov dapat mempertimbangkan karakteristik cabang olahraga golf dan mengacu pada ketentuan pertandingan tingkat nasional.

Pembahasan batas usia juga berkaitan erat dengan proses regenerasi atlet. Rizal mencontohkan adanya atlet dari sejumlah daerah yang masih berusia di atas batas Porprov, tetapi memiliki kemampuan permainan yang baik dan masih berpotensi memperkuat Jawa Timur di ajang yang lebih tinggi.

Ia menyebut salah satu contoh atlet berusia 38 tahun yang masih mampu tampil kompetitif. Menurutnya, jika batas usia diterapkan secara kaku, atlet dengan pengalaman dan performa baik tersebut tidak dapat dimanfaatkan dalam persiapan menuju ajang nasional.

“Ini punya atlet yang umurnya 38, tapi mainnya sudah bagus. Kalau ada batasan umur kan tidak bisa dimainkan di Porprov, padahal mereka akan kita siapkan untuk PON,” kata Rizal.

Selain persoalan regulasi, PGI Jatim juga mulai memetakan kekuatan atlet untuk menghadapi agenda kompetisi mendatang. Pembinaan dilakukan melalui berbagai turnamen yang diikuti para atlet dari kabupaten dan kota sebagai bagian dari proses pemantauan performa.

PGI Jatim juga menyiapkan komposisi atlet untuk mengikuti babak prakualifikasi sebelum menentukan nama-nama yang akan dibawa ke PON. Dalam tahap awal, Jawa Timur berencana mengirim delapan atlet untuk memperebutkan kuota tiga atlet putri dan empat atlet putra, sebelum komposisi final ditentukan sesuai hasil kualifikasi.

Rizal mengatakan proses pemilihan atlet nantinya tidak hanya mempertimbangkan hasil dari satu pertandingan. Konsistensi performa, stabilitas permainan, serta perkembangan atlet menjadi sejumlah faktor yang akan diperhatikan dalam menentukan wakil Jawa Timur.

“Olahraga ini hari ini bagus, besok belum tentu bagus. Ada penilaian-penilaian tersendiri yang harus kita lihat. Mana yang stabil, mana yang performanya sedang bagus. Banyak faktor,” jelasnya.

Jajaran pengurus PGI Jatim

Menurut Rizal, mekanisme tersebut juga diperlukan untuk mengantisipasi munculnya atlet Jawa Timur yang berprestasi di luar negeri tetapi tidak mengikuti seluruh rangkaian prakualifikasi di dalam negeri. PGI Jatim ingin proses seleksi tetap mengedepankan kepentingan tim dan prestasi Jawa Timur secara keseluruhan.

“Jangan ada ego dulu. Jangan hanya karena kemarin dia yang meloloskan, kemudian langsung dibawa. Kita harus melihat siapa yang paling stabil,” katanya.

Di sisi lain, Rizal optimistis regenerasi atlet golf Jawa Timur mulai menunjukkan perkembangan. Ia menyebut sejumlah atlet muda yang sebelumnya tampil di ajang PON kini semakin matang. Beberapa di antaranya bahkan telah menunjukkan prestasi di level internasional.

Baca Juga : PGI Surabaya Perkuat Regenerasi Atlet Lewat Turnamen Junior Golf Walikota Surabaya Cup 2026

Agenda PON mendatang akan menjadi salah satu target utama PGI Jawa Timur dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, Rapat Kerja PGI Jatim tidak hanya membahas persiapan menghadapi kompetisi, tetapi juga menjadi momentum untuk menyatukan strategi pembinaan antara pengurus provinsi dan pengurus cabang di kabupaten atau kota.

Rizal berharap seluruh PGI daerah dapat ikut mengawal upaya penyesuaian regulasi tersebut sehingga sistem pembinaan atlet golf Jawa Timur tidak terhambat oleh aturan yang tidak sepenuhnya mencerminkan karakteristik cabang olahraga golf.

Ia menilai setiap cabang olahraga memiliki karakteristik berbeda dalam hal usia puncak performa atlet. Karena itu, aturan batas usia menurutnya perlu mempertimbangkan karakteristik masing-masing cabang olahraga dan tujuan pembinaan jangka panjang.

Dengan potensi atlet yang tersebar di berbagai daerah, dukungan pengurus cabang, serta munculnya generasi muda berprestasi, PGI Jawa Timur menargetkan pembinaan yang lebih terarah agar mampu meningkatkan daya saing atlet Jawa Timur pada berbagai kejuaraan, termasuk PON mendatang.(kar)