Mengabadikan Citra, Menguatkan Branding Melalui Pelatihan Fotografi untuk UMKM
Teegolf.id, Yogyakarta – Di tengah maraknya pertumbuhan pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) di era digital, kemampuan mempresentasikan produk secara visual menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan. Menjawab kebutuhan ini, Sandika Natural Class, berkolaborasi dengan Tujuh Pagi Mengajar, menggelar seminar edukatif bertajuk “Fotografi Dasar: Optimalisasi Branding Produk melalui Visual”, yang berlangsung di Sabin by Seken Living, Sleman, Yogyakarta.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang belajar teknis fotografi, tetapi juga menjadi ruang berbagi strategi branding yang relevan dan terjangkau bagi para pelaku usaha kreatif. Seminar ini menjadi bagian dari rangkaian kelas pemberdayaan yang diselenggarakan Sandika untuk mendukung komunitas wirausaha berbasis produk alami dan kreatif.
Menghadirkan Robertus Risky, pewarta foto dari media TujuhPagi.com, seminar ini membedah prinsip-prinsip dasar fotografi yang seringkali terabaikan. Mulai dari pentingnya memahami segitiga eksposur (ISO, aperture, shutter speed), komposisi, pencahayaan, hingga praktik langsung memotret produk di lokasi acara.
“Banyak orang langsung terjun ke teknik pemotretan tanpa tahu kenapa hasilnya kurang maksimal. Padahal, yang penting itu fondasinya. Memahami bagaimana cahaya bekerja dan bagaimana kamera menangkapnya adalah kunci,” tegas Robertus saat membuka sesi materi.
Ia menekankan bahwa pemahaman dasar bukan hanya milik fotografer profesional. Justru bagi pelaku usaha kecil yang belum memiliki sumber daya untuk menyewa fotografer, keahlian dasar ini menjadi senjata utama dalam membangun citra produk.
Lebih lanjut, ia mengangkat peran kamera ponsel sebagai alat fotografi yang kini semakin mumpuni dan relevan.
“HP sekarang bukan cuma alat dokumentasi. Ia sudah menjadi medium ekspresi visual. Dengan penguasaan teknik sederhana, kita bisa membuat produk terlihat berkelas, bahkan hanya dengan pencahayaan alami dan latar yang sederhana,” tambahnya.
Salah satu bagian paling dinanti dari seminar ini adalah sesi praktik langsung. Para peserta diajak mengaplikasikan ilmu yang baru saja mereka pelajari dengan memotret produk menggunakan kamera ponsel. Mereka memanfaatkan benda-benda di sekitar sebagai latar, memperlihatkan bahwa kreativitas bisa muncul tanpa perlengkapan mahal.
Muhammad Faqih Zidan, salah satu peserta yang tergabung lewat unggahan Instagram Sandika Natural Class, mengaku bahwa seminar ini memberikan pengalaman baru dalam memahami aspek visual branding.
“Saya pikir fotografi itu soal kamera mahal. Ternyata, pemahaman soal ISO, aperture, dan shutter speed jauh lebih penting. Bahkan dengan HP, hasilnya bisa bagus asal tahu tekniknya,” ujarnya.
Zidan juga menggarisbawahi pentingnya latihan berkelanjutan. Meski hasil fotonya masih jauh dari sempurna, ia merasa mendapatkan arahan yang signifikan dalam membangun portofolio visual produknya sendiri.
“Hari ini saya tahu posisi cahaya itu krusial. Dan komposisi itu nggak bisa asal. Berkat masukan langsung dari Mas Robert, saya mulai paham angle mana yang pas buat produk saya,” jelasnya.
Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian program edukatif yang digagas TujuhPagi Mengajar sebuah intitusi yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan praktis dan kreatif. Dengan menyasar topik-topik seperti teknik dasar fotografi, pemasaran visual, dan pengembangan personal branding, komunitas ini aktif menjangkau individu yang ingin bertumbuh lewat pendekatan kolaboratif.
Sementara itu, Sandika Natural Class terus berkomitmen menjadi ruang belajar dan berbagi yang inklusif. Melalui berbagai kelas kreatif, terutama di bidang produk alami seperti essential oil, Sandika memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk mengekspresikan potensi diri dan mengembangkan bisnis dari rumah secara mandiri.
“Fotografi bukan cuma soal estetika. Di tangan pelaku UMKM, ia jadi alat strategi bisnis. Di era digital, citra visual menentukan kesan pertama konsumen,” ungkap salah satu pengurus Sandika Natural Class usai acara.
Melihat antusiasme peserta dan kualitas materi yang disampaikan, pihak penyelenggara menyatakan rencananya untuk menghadirkan seri lanjutan. Tak hanya fokus pada fotografi, mereka akan mengangkat tema lain yang berhubungan dengan pemasaran digital, pengemasan produk, hingga storytelling brand.
Acara seperti ini menjadi bukti bahwa edukasi praktis yang menyentuh kebutuhan langsung masyarakat bisa menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Ketika keterampilan dasar seperti fotografi diajarkan secara terbuka dan aplikatif, maka UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dengan daya saing yang kuat.