Bertemu Pengusaha Jatim, Perwakilan The World Bank Lakukan Validasi Data Ekonomi Indonesia
Lead Economist The World Bank, Habib Rab Perwakilan The World Bank saat melakukan paparan dalam Forum General Discussion (FGD) bersama pelaku usaha Jawa Timur di Graha Kadin Jatim, Selasa (30/4/2024).
Perwakilan The World Bank melakukan Forum General Discussion (FGD) bersama pelaku usaha Jawa Timur di Graha Kadin Jatim, Selasa (30/4/2024). Dalam kesempatan tersebut, mereka ingin menggali informasi secara riil tentang kondisi ekonomi domestik dalam negeri, khususnya Jawa Timur.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto, Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Promosi Luar Negeri, Prof. Tommy Kaihatu, Wakil Ketua Umum Bidang Konstruksi M Rizal, Sekretaris Apindo Jatim Dwi Ken Hendrawanto serta sejumlah pengusaha Jawa Timur.
Lead Economist The World Bank Habib Rab mengungkapkan bahwa Bank Dunia sedang melakukan studi komprehensif tentang pertumbuhan ekonomi jangka panjang di Indonesia, termasuk di sektor swasta, diantaranya sektor manufaktur dan jasa. Studi juga dilakukan terhadap perpajakan di Indonesia.
Untuk mendorong pertukaran ide yang produktif dan mendapatkan wawasan berharga dari sektor swasta, maka Bank Dunia meminta masukan dari Kadin apakah studi yang dilakukan sudah sesuai dengan kenyataan atau ada hal yang bisa dapatkan sebagai umpan balik untuk mempertajam analisa dan data.
“Dan seperti yang telah diungkapkan oleh Kadin Jatim, beberapa poin yang telah kami kemukakan ternyata memang terjadi di lapangan. Intinya, analisa kami sudah ada pada arah yang tepat,” kata Habib Rab.
Ia menegaskan, penting untuk tetap melakukan konsultasi terhadap sektor swasta agar analisa yang dilakukan lebih tajam sehingga data tidak hanya bercerita tetapi juga berbicara tentang realita yang ada di lapangan, bagaimana dan apa yang dialami dunia usaha. “Tidak sekedar angka saja tetapi kita bisa tahu apa yang ada dibaliknya itu,” tandasnya.
Pada kesempatan tersebut, Habib Rab mengatakan kondisi Indonesia saat ini terbilang masih cukup bagus. Pendapatan per kapita masyarakat juga telah bergeser dari middle income ke level upper middle income, berbeda dengan India, Nigeria, Philipina dan Mesir dimana income per kapitanya masih di level middle income.
Tetapi saat ini pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan Indonesia terus mengalami perlambatan. Pertumbuhan sektor manufaktur yang menjadi penyumbang utama ekonomi Indonesia misalnya, ketika dibandingkan dengan berbagai negara, maka pertumbuhannya terbilang cukup lambat, kalah dengan China, Meksiko, Mesir, Nigeria, bahkan dengan India.
Hal ini menurut Senior Economist The World Bank Alexandre Hugo Laure salah satunya disebabkan karena minimnya penelitian dan pengembangan serta rendahnya adaptasi teknologi dan inovasi yang dilakukan oleh industri besar di Indonesia. “Pengeluaran penelitian dan pengembangan terbilang rendah dibandingkan negara-negara sejenis,” tandasnya.
Pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan yang dilakukan industri di Indonesia hanya sekitar 9%, jauh tertinggal dibandingkan kompetitor. Dan hanya 5% perusahaan yang mengeluarkan dana untuk penelitian serta pengembangan.
“Hanya sedikit perusahaan yang memperkenalkan inovasi, baik inovasi produk atau proses. Mengadopsi teknologi dan efisiensi energi juga sangat kecil di Indonesia dan hanya sedikit perusahaan yang mengadopsi praktik manajemen ramah lingkungan,” katanya. (SA-1)